Selasa, 05 April 2011

Pe.Neonbasu: Dosa Besar Manipulasi Tulisan Orang, Filomeno: “Kami Siap Dialog Dengan Mahasiswa UNTL”

Posting Husi : Josefa Parada

ATAMBUA-Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Pastor Gregorius Neonbasu, SVD, Ph.D menegaskan dirinya mengutuk orang yang memanipulasi tulisannya soal UNTAS (Uni Timor Aswain) dan menilai perbuatan seperti itu adalah dosa besar dan melanggar hukum.
“Saya kutuk mereka yang memanipulasi tulisan saya dan saya akan tuntut mereka secara hukum,” kata Pastor Neonbasu menjawab koran ini ketika dihubungi via telepon selularnya di Kupang, Jumat (1/4) malam.
Direktur Puslit MANSENSAE Kupang ini juga mengatakan memalsukan karya orang lain untuk kepentingan politik tertentu adalah dosa dan melawan hukum. “Saya baru tahu kalau tulisan saya tentang UNTAS dimanipulasi di Timor Leste. Baik, saya akan pelajari dulu baru  saya sampaikan sikap saya melalui koran Anda,” tuturnya.
Ia mengakui bahwa awal Desember 2010 silam, dirinya menulis opini di Koran Harian Timor Express berjudul” UNTAS Visioner (Prediksi Merangkul Warga Timor Timur di Diaspora). Namun, di Timor Leste tulisan itu dimanipulasi dengan judul “Suara Timor Militan  Yes We Will be back to say integration with Indonesian is good Solution and forever”. Ia sangat sesalkan tindakan  orang-orang yang memanipulasi  tulisan soal UNTAS.
Issue UNTAS bergulir ketika mahasiswa UNTL menggelar konferensi pers  di Kampus UNTL belum lama ini. Dalam konferensi pers tersebut disebutkan sejumlah nama orang Timor Leste, termasuk beberapa menteri  dalam kabinet Aliansi Mayoritas Parlamentar (AMP) pimpinan Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmao dan beberapa anggota Parlamen Nasional  dituding sebagai anggota UNTAS di Timor Leste. Para menteri yang disebutkan namanya antara lain, Menteri Pariwisata, Perdagangan dan Perindustrian, Gil da Costa Alves, Sekretaris Negara Lingkungan Hidup, Abilio Lima, Sekretaris Negara Bidang Pertahanan, Julio Tomas Pinto, Sekretaris Negara Bidang Keamanan, Francisco da Costa Guterres. Bukan hanya itu, disebutkan juga bahwa di tubuh militer Timor Leste (Falintil-FDTL) terdapat sekitar 50-an anggota UNTAS.
Menanggapi hal itu,  Sekretaris Jenderal (Sekjen) UNTAS, Ir. Filomeno de Jesus Hornay, M.Agr. Sc, secara tegas mengatakan nama-nama orang Timor yang disebut-sebut sebagai anggota UNTAS di Timor Leste adalah tidak benar.
“Itu issue murahan yang tidak berdasar. Kami tidak melibatkan orang  Timor di Timor Leste masuk dalam kepengurusan UNTAS karena organisasi ini hanya untuk memayungi orang-orang kelahiran Timor Timur (kini Timor Leste) yang berada di Indonesia,” tuturnya kepada koran ini ketika dihubungi vila telepon selularnya di Kupang, Jumat malam.
Ia menyebutkan sesuai Surat Keputusan (SK) No.001/SKEP/DPP/UNTAS) 2010 tentang pengurus DPP UNTAS periode 2010-2014, yang ditandatangani Ketua Umum DPP UNTAS, Eurico Guterres, SE, MM dan Sekjen Ir. Filomeno de Jesus Hornay, M.Agr.Sc, yang ditetapkan di Kupang, 29 Januari 2011, tidak tertera nama-nama yang disebutkan oleh mahasiswa UNTL.
“Saya terkejut ketika media cetak dan elektronik di Timor Leste mempublikasikan issue UNTAS yang digulirkan mahasiswa UNTL. Saya  mengimbau kepada masyarakat di Timor Leste bahwa jangan percaya issue murahan itu. UNTAS tidak melibatkan orang di Timor Leste sebagai anggotanya, karena organisasi ini hanya untuk orang Timor di Indonesia,” kata Filomeno.
Menurut dia, UNTAS sekarang tidak seperti UNTAS  sebe¬lumnya. Kini, kata Filomeno, UNTAS lebih berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia keturunan Timor Timur di Timor Barat, NTT. “Dulu, UNTAS lebih radikal, tapi sekarang UNTAS membawa misi  persatuan untuk orang Timor Timur di Indonesia. UNTAS ingin membangun persatuan dan perdamaian. UNTAS tidak ingin menciptakan permusuhan,” paparnya.
Ingin Dialog
Menyikapi polemik soal issue UNTAS di Timor Leste, Filomeno ingin mengundang mahasiswa UNTL ke Timor Barat untuk berdialog langsung dengan pengurus UNTAS. Dengan demikian, mahasiswa UNTL mendapatkan penjelasan dari pengurus UNTAS tentang visi dan misi organisasi yang  memayungi orang Timor Timur di Indonesia ini.
“Kalau pemerintah Timor Leste mengijinkan mahasiswa UNTL ke Timor Barat untuk dialog dengan UNTAS, kami akan jemput mereka di perbatasan Batugade-Motaain. UNTAS menjamin keamanan mereka. Saya kira hal itu penting agar orang-orang di Timor Leste tidak saling curiga satu sama lain,” tuturnya.
Dikatakan, saat ini ribuan putra-putri Timor Leste sedang belajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan separuhnya ada di NTT. “Apakah UNTAS mengganggu mereka? Tidak. Kami justeru bangga  karena ribuan putra-putri Timor Leste sedang mempersiapkan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan bangsa Timor Leste,”ujarnya.
Ia berharap mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa Timor Leste  jangan mudah terpengaruh dengan maneuver-manver politik yang dilakukan elit-elit politik untuk kepentingan partai politik. “Sekarang Timor Leste merupakan sebuah negara merdeka dan berdaulat. Tak ada gunanya lagi mengungkit masa lalu. Masa lalu biarlah berlalu, mari kita menatap masa depan yang lebih baik. Sebagai generasi penerus cita-cita bangsa, mahasiswa harus giat belajar agar dengan bekal pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya dapat mengisi kemerdekaan Timor Leste,” kata Filomeno.
Dengan makin meningkatnya hubungan bilateral dan persahabatan  Indonesia dan Timor Leste, Filomeno berharap hubungan persahabtan masyarakat kedua negara, terlebih masyarakat kelahiran Timor Timur di Indonesia dengan masyarakat di Timor Leste terus dibina dan ditingkatkan. Rasa saling curiga sebaiknya dihindari. Pasalnya, meskipun politik memisahkan orang Timor, namun identitas sebagai orang Timor tak akan hilang.    
Kami Sudah Lupa Mereka
Sementara itu, tokoh masyarakat kelahiran Timor Timur di Atambua, yang juga Ketua UNTAS untuk wilayah Kabupaten Belu yang membidangi  lingkungan hidup, Francisco Soares Pereira menegaskan bahwa  orang-orang yang namanya disebut-sebut mahasiswa UNTL sebagai anggota UNTAS di Timor Leste adalah tidak benar.
“Kami sudah lupa mereka dan nama-nama itu tidak masuk dalam kamus UNTAS. Sebut nama mereka saja tidak, apalagi  masuk anggota pengurus  UNTAS. Itu tidak ada.  Bahkan orang-orang  tertentu yang dicurigai mahasiswa UNTL itu kalau ke NTT sembunyi dari kami. Barangkali mereka anggap kami masih seperti Harimau. Padahal, kami bukan lagi seperti Harimau yang harus ditakuti. Sekarang kami seperti kalajengking yang sedang tidur lelap. Terus terang kami tidak ingin menciptakan permusuhan dengan siapa pun,” kata Francisco.
Ia sendiri terkejut saat daftar nama-nama mereka yang dicurigai sebagai anggota UNTAS di Timor Leste ditayangkan melalui TVTL. Setiap perkembangan di Timor Leste dipantau terus oleh warga kelahiran Timor Timur di Indonesia melalui siaran TVTL. “Jadi, polemik soal issue UNTAS di Timor Leste, kami ikuti terus lewat siaran TVTL,” cetusnya.
Ia menambahkan bahwa UNTAS adalah organisasi untuk mempersatukan warga kelahiran Timor Timur di Indonesia dan anggotanya pun hanya orang-orang Timor yang ada di Indonesia. “ UNTAS boleh ada dimana-mana (seluruh wilayah Indonesia), tapi tidak dibawa kemana-mana (di luar Indonesia). UNTAS tidak ingin menciptakan permusuhan. UNTAS ingin membangun persatuan, perdamaian dan mensejahterakan warga Timor Timur di Indonesia,” tuturnya.
Putra kelahiran Bobonaro ini mengingatkan  mahasiswa UNTL agar tidak terpengaruh dengan manuver-manuver politik para elit politik untuk kepentingan partai politik tertentu. “Saya minta adik-adik mahasiswa  konsentrasi dengan kegiatan belajar, jangan ikut-ikutan terjun dalam politik praktis. Masa lalu membuktikan kepada kita bahwa politik dapat memisahkan kita satu dengan lainnya. Buktinya, sekarang ratusan ribu orang Timor terpaksa tinggalkan tanah kelahirannya dan menjadi warga Negara Indonesia hanya karena berbeda pilihan politik. Itu masa lalu yang sungguh pahit bagi orang Timor. Masa lalu yang pahit itu jangan terulang lagi,” paparnya.
Meski begitu, kata Francisco, identitas sebagai orang Timor tetap terpatri dalam hati sanubari orang Timor di rantauan. “Biarpun kami tidak tinggal di Timor Leste, tetapi identitas sebagai orang Timor  tetap ada dalam hati sanubari kami,” tuturnya lagi. Mik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar